Don’t Be Afraid of the Dark (2011)


Setelah di telantarkan sang ibu, si kecil Sally Hirst (Bailee Madison) kini harus tinggal bersama ayahnya, Alex (Guy Pearce). Kebetulan Alex bersama kekasihnya, Kim (Katie Holmes) yang juga seorang disainer interior saat itu sedang melakukan renovasi besar-besaran sebuah mansion tua bergaya victorian yang terletak di pinggiran Rhode Island. Tidak butuh waktu lama Sally kemudian menemukan adanya ruang bawah tanah tersembunyi di bangunan besar itu yang bahkan Alex dan Kim saja tidak pernah mengetahuinya. Basement berdebu itu rupanya adalah bekas ruang kerja pemilik lama, Emerson Blackwood seorang pelukis dan ahli bilogi ternama. Tidak hanya itu, ruangan itu rupanya juga menyimpan sesuatu yang jahat di dalam perapiannya yang sebentar lagi akan segera dibuka oleh Sally yang penasaran akan suara-suara misterius yang memanggilnya dari dalam sana.

Nama Guillermo del Toro bisa jadi lebih besar daya tariknya ketimbang pesona remake dari FTV horor yang ditayangkan stasiun TV ABC pada tahun 1973 ini . Ya, Sutradara asal meksiko ini memang memiliki daya magis tersendiri dalam menghasilkan karya-karyanya, lihat saja ia sudah sukses membuat Pan’s Labyrinth menjadi dongeng gelap yang indah, atau disaat ia memoles kisah anak iblis, dalam Hellboy menjadi sugguhan superhero beraura gothic kental lengkap dengan desain monster-monsternya yang memukau. Dan ketika Del Toro memutuskan untuk mendaur ulang salah satu proyek horor klasik favoritnya yang konon sudah diraciknya selama 1 setengah dekade ini tentu saja banyak penontonnya yang berharap banyak bahwa Don’t Be Afraid of the Dark akan menjadi sugguhan teror menakutkan ala Del Toro. Dan walaupun kemudian faktanya lebih banyak kritikan ketimbang pujian yang menghujam film ini, tetap tidak membuat saya berhenti untuk menantikannya.

Adalah Troy Nixet, sutradara debutan sekaligus komikus yang kemudian di pekerjakan Del Toro untuk mewujudkan visinya membawa kembali dunia Don’t Be Afraid of the Dark ke era modern. Del Toro sudah mempersiapkan segalanya termasuk naskah yang sudah ditulisnya bersama rekannya di Mimic, Matthew Robbins yang sudah mengalami beberapa perombakan kecil sana-sini dari versi aslinya untuk dapat disesuaikan dengan jaman sekarang, termasuk pengunaan CGI yang lebih modern. Dan salah satu perubahan yang paling mencolok adalah ketika Del Toro mengganti karakter utamanya dari seorang istri penakut menjadi gadis kecil introvert yang harus mengalami broken home, sisanya Don’t be afraid of the dark bisa dibilang cukup setia dengan versi originalnya, bahkan film ini sejatinya sudah selesai dibuat sejak dua tahun lalu, namun dikarenakan waktu itu Miramax di lepas Disney membuatnya harus tertahan hingga tahun ini.


Banyak yang tidak puas dengan naskah yang dibuat Del Toro kali ini, ‘terlalu klise’ dan ‘banyak plot hole‘ kata mereka, mungkin ada benarnya, tapi ini adalah horor bertema rumah angker, jadi mengapa ia tidak boleh klise? Toh ini juga sebuah remake, jadi tidak usah heran kalau tanpa sadar anda sudah akrab dengannya. Sungguh saya sama sekali tidak peduli dengan kekurang-kekurangan minor itu, selama ia mampu memberikan saya sebuah sugguhan horor yang mampu digarap rapi semua itu seama sekali tidak menjadi masalah, dan Nixet sudah melakukan itu. Ia menyihir saya dengan segala sugguhan teknisnya yang memukau, tentu saja sentuhan seorang Del Toro begitu terasa disetiap sekuensnya. Don’t Be Afraid of the Dark versi anyar ini sukses memancarkan atmosfer gelap dam eerie sekaligus terlihat anggun disaat bersamaan, didukung dengan visual cantik dan set mansion tua yang menakutkan plus musik latar dari Marco Beltrami dan Buck Sanders yang mencekam. Lihat saja desain artnya, seperti ornamen-ornamen bernada dark gothic yang banyak menghiasi bangunan itu, banyak mengingatkan kita pada desain-desain Del Toro di film-filmnya dan belum lagi saya menyebut endingnya yang bagus.

Meskipun bertema ‘Haunted House’, tapi anda tidak akan menemukan penampakan hantu-hantu atau setan disini, sebagai gantinya ada mahkluk-mahkluk kecil mirip campuran goblin dan tikus yang disebut Del Toro sebagai homunculi (manusia kecil). Para homunculi digambarkan sebagai mahluk kecil jahat dan jelek yang berasal kegelapan pekat dalam bumi, mereka juga membenci terang dan menggemari gigi manusia sebagai makanannya. homunculi divisualisasikan oleh bantuan CGI, tidak tampak terlalu meyakinkan memang, tapi gerombolan setan kecil yang pintar besembunyi ini sudah memberikan Sally dan anda sebuah teror mengerikan, apalagi disaat mereka sudah dilengkapi dengan obeng, cutter dan pisau pencukur.

Perubahan karakter utamanya menjadi anak kecil bak dua sisi mata pisau, disatu sisi karakter Sally yang dibawakan dengan apik oleh Bailee Madison mampu memberikan penyegaran pada versi daur ulangnya ini,tapi sayang tidak membuat horor berbudget 25 juta Dollar ini terlihat segelap Pan’s Labyrinth yang notabene sama-sama memasang bocah perempuan sebagai heroine nya. Don’t Be Afraid of the Dark tidak pernah bisa benar-benar mencapai titik puncak kengeriannya karena perubahan satu ini, seperti menonton horor keluarga yang menakutkan walaupun MPAA sendiri sudah melebelinya dengan rating ‘R’ karena atmosfernya yang ‘berat’ itu.

So, Don’t Be Afraid of the Dark mungkin bukan yang terbaik dari seorang Guillermo del Toro, atau anda juga bisa menyalahkan Troy Nixet yang mungkin tidak becus menerjemahkan naskahnya, tapi bagaimanapun ini adalah salah satu horor rumah angker yang bagus, tidak peduli banyak orang yang tidak menyukainya, tetap bagi saya del Toro dan Nixet sudah melakukan pekerjaan mereka dengan cukup baik dalam menghadirkan sensasi menonton horor modern mencekam dengan balutan art design apik dan gaya aura old school horor yang kental.

Source: movienthusiast.com

0 komentar:

Posting Komentar